UTS PSIKOLOGI SITIAISAH PIAUD1A

                                   MAKALAH

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

“ALIRAN PSIKOLOGI KOGNITIF,IMPLIKASI PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN”

Di Ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah studi Psikologi Pendidikan

Dosen Pengampu :

RIDWAN,S.PSI.,M,PSI,.PSIKOLOG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Rani Vileta (209220018)

Siti Aisah (209220036)

 

 

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

PRODI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

TAHUN AJARAN 2022/2023




KATA PENGANTAR

 

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna untuk memenuhi tugas kelompok, dengan judul : “Aliran Psikologi Kognitif,implikasi psikologi kognitif dalam pendidikan”  .

Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak  kekurangan baik pada teknik penulisanan maupun materi, mengingat kemampuan yang dimiliki penulis.Untuk itu kritik dan saran dari dosen pengampuh sangat  penulis harapkan demi menyempurnakan makalah ini.

Semoga penulisan makalah mengenai “Aliran Psikologi Kognitif,implikasi kognitif dalam pendidikan”   dapat memberikan informasi yang berguna bagi informasi kita semua yang ingin mengetahui tersebut.

 

 

Jambi, 20 November 2022

 

                                                                                                                         Penulis

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................

DAFTAR ISI .......................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................

A. Latar Belakang..................................................................................................

B. Rumusan Masalah............................................................................................

C. Tujuan................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................

             A.Pengertian Teori Kognitif..................................................................................

             B.Teori Kognitif Menurut Para Ahli......................................................................

             C.Implikasi Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Kognitif..............................

BAB III PENUTUP...............................................................................................................

A.Kesimpulan.....................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

 

Disadari atau tidak, setiap individu tentu pernah melakukan aktivitas belajar karena aktivitas belajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang mulai sejak lahir sampai mencapai umur tua. Khodijah (2014)  memberikan definisi belajar yaitu: 1) belajar adalah merupakan sebuah proses yang memungkinkan seseorang memperoleh dan membentuk kompetensi, keterampilan, dan sikap yang baru. 2) Proses belajar melibatkan prosesproses internal yang terjadi berdasarkan pengalamn, latihan dan interaksi social. 3)     hasil belajar ditunjukkan oleh terjadinya perubahan prilaku, 4)  Perubahan yang dihasilkan dari belajar bersifat relatif permanen. Dalam membahas teori-teori tentang belajar, sudah banyak teori yang muncul seperti  teori  behavioristik, teori kognitif, toeri humanistik dan lainnya. Pada tulisan ini akan diuraikan tentang teori kognitif  

 

B. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang dapat kita ungkapkan dalam pembahasan ini  adalah sebagai berikut :

 

1. Apa yang dimaksud dengan Teori Kognitif ?

2. Apa saja teori perkembangan kognitif menurut para ahli ?

3. Apa yang dimaksud dengan Implikasi Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Kognitif dalam Pembelajaran ?

 

C. Tujuan

Dengan pembahasan ini diharapkan :

 

1. Mengetahui defenisi teori Kognitif

2. Mengetahui teori perkembangan kognitif menurut para ahli

3. Mengetahui tentang Implikasi Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Kognitif

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Teori Kognitif

 

     Berbeda dengan teori-teori belajar dalam paradigma behavioristik yang menjelaskan belajar sebagai perubahan prilaku yang dapat diamati yang timbul sebagai hasil pengalaman, teori belajar.

kognitif menjelaskan belajar dengan berfokus pada perubahan-perubahan proses mental internal yang digunakan dalam upaya memahami dunia eksternal. Proses tersebut digunakan mulai dari mempelajari tugas-tugas sederhana hingga yang kompleks. Dalam perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mental seseorang yang memberikan kapasitas untuk menunjukkan perubahan prilaku. Struktur mental ini meliputi pengetahuan, keyakinan, keterampilan, harapan dan mekanisme lain dalam kepala pembelajar. Fokus teori kognitif adalah potensi untuk berprilaku dan bukan pada prilakunya sendiri.( Khodijah, 2014) Saam (2010 : 59) menyatakan bahwa Teori kognitif menekankan bahwa peristiwa belajar merupakan proses internal atau mental manusia. Teori kognitif menyatakan bahwa tingkah laku manusia yang tampak tidak bisa diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental yang lain seperti motivasi, sikap, minat, dan kemauan.  Gredler dalam Uno (2006 : 10) menyatakan bahwa Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini,belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Namun lebih erat dari itu, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Dalyono (2007 : 34) bahwa Dalam teori belajar kognitif dinyatakan bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh “reward” dan “reinforcement”.  Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitifis. Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku itu.

 

B. Teori Kognitif Menurut Para Ahli

 

1. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget  Gredler (2011:324) 

    menyatakan bahwa Fokus dari teori Jean Piaget adalah menemukan asal muasal logika alamiah dan transformasinya dari satu bentuk penalaran ke penalaran lain. Tujuan ini mengharuskan dilakukannya penelitian atas akar dari pemikiran logis pada bayi, jenis penalaran yang dilakukan anak kecil, dan proses penalaran remaja dan dewasa.  Aunurrahman (2009:58) menya takan bahwa dalam teorinya, Piaget mengemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda satu sama lainnya. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap perkembangan moral berikutnya. Berikut ini akan dijelaskan tentang teori perkembangan Kognitif menurut Jean Piaget sebagai berikut:

a. Proses Kognitif Santrock (2008:43)

  menyatakan dalam memahami dunia anak-anak secara aktif, mereka menggunakan skema (kerangka kognitif atau kerangka referensi). Sebuah skema adalah konsep atau kerangka eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan mengin terpretasikan informasi.  Piaget menya takan bahwa ada dua proses yang bertanggung jawab atas cara anak 

menggunakan dan mengadaptasi skema mereka yaitu: asimilasi dan akomodasi.  Kemudian lebih lanjut Santrock (2008:46) menyatakan bahwa Piaget juga menyatakan bahwa untuk memahami dunianya, anak-anak secara kognitif mengorganisasikan pengalaman mereka. Organisasi adalah konsep Piaget yang berarti usaha mengelompokkan perilaku yang terpisah-pisah ke dalam urutan yang lebih teratur, ke dalam sistem fungsi kognitif.  Selanjutnya Santrock (2008:47) menyatakan bahwa ekuilibrasi adalah suatu mekanisme yang dikemukakan Piaget untuk menjelaskan bagaimana anak bergerak dari satu tahap pemikiran ke tahap pemikiran selanjutnya. Pergeseran ini terjadi pada saat anak mengalami konflik kognitif atau disekuilibrium dalam usahanya memahami dunia. Pada akhirnya anak memecahkan konflik ini dan mendapatkan keseimbangan atau ekuilibrium pemikiran. Piaget percaya bahwa ada gerakan yang kuat antara keadaan ekuilibrium kognitif dan disekuilibrium saat asimilasi dan akomodasi bekerja sama dalam menghasilkan perubahan kognitif .

 

 b. Tahap-Tahap Piagetian   Santrock (2008:47-60) menyatakan bahwa melalui observasinya, Piaget juga menyakini bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam empat tahapan. Masing-masing tahap berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbedabeda. Menurut Piaget, semakin banyak informasi tidak membuat pikiran anak lebih maju. Kualitas kemajuannya berbeda-beda. Tahapan Piaget itu adalah fase sensorimotor, pra operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Berikut ini penjelasannya. 

1) Tahap sensorimotor 

    Tahap ini, yang berlangsung sejak kelahiran sampai sekitar usia dua tahun, adalah tahap Piagetian pertama. Dalam tahap ini, bayi menyusun pemahaman dunia dengan mengoordinasikan pengalaman indra (sensory) mereka (seperti melihat dan mendengar) dengan gerakan motor (otot) mereka (menggapai, menyentuh) dan karenanya diistilahkan sebagai sensorimotor. Pada awal tahap ini, bayi memperlihatkan tidak lebih dari pola reflektif untuk beradaptasi dengan dunia. Menjelang akhir tahap ini, bayi menunjukkan pola sensorimotor yang lebih kompleks. Piaget percaya bahwa pencapaian kognitif penting di usia bayi adalah object permanence. Ini berarti pemahaman bahwa objek dan kejadian terus eksis bahkan ketika objek dan kejadian itu tidak dapat dilihat, didengar, atau disentuh. Pencapaian kedua adalah realiasasi bertahap bahwa ada perbedaan atau batas antara diri Anda dengan lingkungan Anda. Pemikiran ini akan kacau, tak beraturan, dan tak bisa diprediksi. Menurut Piaget seperti inilah kehidupan mental dalam bayi yang baru saja lahir. Jabang bayi tidak dapat membedakan antara dirinya dan dunianya dan tidak punya pemahaman tentang kepermanenan objek. Menjelang akhir periode sensorimotor, anak bisa membedakan antara dirinya dan dunia sekitarnya dan menyadari bahwa objek tetap ada dari waktu ke waktu. 

 

2) Tahap pra-operasional

     Tahap ini adalah tahap Plagetian yang kedua. Tahap ini berlangsung kurang lebih mulai dari usia dua tahun sampai tujuh tahun. Ini adalah tahap pemikiran yang lebih simbolis ketimbang pada tahap sensorimotor tetapi tidak melibatkan pemikiran operasional. Namun tahap ini bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Pemikiran pra-operasional bisa dibagi lagi menjadi dua subtahap: fungsi simbolis dan pemikiran intuitif.   

a) Subtahap fungsi simbolis  Sub tahap fungsi simbolis terjadi kira-kira antara usia dua sampai empat tahun. Dalam subtahap ini, anak kecil secara mental mulai bisa merepresentasikan objek yang tidak hadir. Ini memperluas dunia mental anak hingga mencakup dimensidimensi baru. Penggunaan bahasa yang mulai berkembang dan kemunculan sikap bermain adalah contoh lain dari peningkatan pemikiran simbolis dalam subtahap ini. Anak kecil mulai mencoret-coret gambar orang, rumah, mobil, awan, dan banyak benda lain dari dunia ini.   Meskipun anak kecil membuat kemajuan di subtahap ini, pemikiran pra-operasional masih mengandung dua keterbatasan yaitu egosentrisme dan animisme. Egosentrisme adalah ketidak mampuan untuk membedakan antara perspektif milik sendiri dengan perspektif milik orang lain. Kemudian animisme juga merupakan ciri dari pemikiran pra-operasional. Animisme adalah kepercayaan bahwa objek tak bernyawa punya kualitas “kehidupan” dan bisa bergerak. Seorang anak kecil mungkin menunjukkan animisme ini dengan mengatakan, “Pohon ini mendorong daun dan membuatnya gugur” atau “Trotoar itu membuatku gila”. Trotoar itu membuatku  terjatuh. b)  Sub tahap pemikiran Intuitif  Sub tahap pemikiran Intuitif adalah subtahap kedua dalam pemikiran praoperasional, dimulai sekitar usia tahun dan berlangsung sampai usia tujuh tahun. Pada subtahap ini, anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan. Piaget menyebut tahap ini sebagai “intuitif” karena anakanak tampaknya merasa yakin terhadap pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi tidak menyadari bagaimana mereka bisa mengetahui apa-apa yang mereka ingin ketahui. Artinya, mereka mengatakan bahwa mereka tahu sesuatu tetapi mereka mengetahuinya tanpa menggunakan pemikiran rasional. Salah satu keterbatasan kemampuan penalaran (reasoning) anak adalah mereka sulit untuk menempatkan benda atau sesuatu ke dalam kategori yang pas. Banyak contoh-contoh tahap pra-operasional ini menunjukkan karakteristik pemikiran yang disebut centration, yakni pemfokusan (atau pemusatan) perhatian pada satu karakteristik dengan mengabaikan karakteristik lainnya. Centration tampak jelas dalam kurangnya conservation dari anak di tahap pra-operasional. Konservasi (conservation) yang dimaksud disini adalah ide bahwa beberapa karakteristik dari objek itu tetap sama meski objek itu berubah penampilannya. 

 

 3) Tahap Operasional Konkret    

     Tahap Opersional Konkret adalah tahap perkembanga kognitif Piagetian ketiga, dimulai dari sekitar umur tujuh tahun sampai sekitar sebelas tahun. Pemikiran operasional konkret mencakup pengguna operasi. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif, tetapi hanya dalam situasi konkret. Kemampuan untuk menggolong-golongkan sudah ada. Tetapi belum bisa memecahkan problem-problem abstrak.   Operasi konkret adalah tindakan mental yang bisa dibalikkan yang berkaitan dengan objek konkret nyata. Operasi konkret membuat anak bisa mengoordinasikan beberapa karakteristik, jadi bukan hanya fokus pada satu kualitas dari satu objek. Pada level operasional konkret, anak-anak secara mental bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa mereka 

lakukan secara fisik, dan mereka bisa membalikkan operasi konkret ini. Beberapa percobaan Piagetian meminta anak untuk memahami hubungan antarkelas. Salah satu tugas itu disebut seriation, yakni operasi konkret yang melibatkan stimuli pengurutan di sepanjang dimensi kuantitatif (seperti panjang).  Untuk mengetahui apakah murid dapat mengurutkan, seorang guru bisa meletakan delapan batang lidi dengan panjang yang berbeda-beda secara acak di atas meja. Guru kemudian meminta murid untuk mengurutkan batang itu berdasarkan panjangnya. Banyak anak kecil mengurutkannya dalam kelompok batang “besar” atau “kecil” bukan berdasarkan urutan panjangnya dengan benar.  Aspek lain dari penalaran tentang hubungan antarkelas adalah transivity. Ini adalah kemampuan untuk mengombinasikan hubungan secara logis untuk memahami kesimpulan tertentu. Dalam kasus batang lidi, misalkan tiga batang (A,B, dan C) berbeda panjangnya. A adalah yang paling panjang, B panjangnya menengah, dan C adalah yang paling pendek. Apakah anak memahami bahwa jika A>B, B>C, dan A>C? Menurut teori Piaget, pemikiran konkret operasional bisa memahaminya, tetapi pemikiran praoperasional tidak.   

 

 

4) Tahap operasional Formal  

      Tahap ini, yang muncul pada usia tujuh sampai lima belas tahun, adalah tahap keempat menurut teori Piaget dan kognitif terakhir. Pada tahap ini, individu sudah mulai memikirkan pengalaman di luar pengalaman konkret, dan memikirkannya secara lebih abstrak, idealis, dan logis.   Kualitas abstrak dari pemikiran operasional formal tampak jelas dalam pemecahan problem verbal. Pemikir operasional konkret perlu melihat 

elemen konkret A, B, dan C untuk menarik kesimpulan logis bahwa jika A = B dan B = C, maka A = C. Sebaliknya, pemikir operasional formal dapat memecahkan persoalan ini walau problem ini hanya disajikan secara verbal.   Selain memiliki kemampuan abstraksi, pemikir operasional formal punya kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan. Pada tahap ini, remaja mulai melakukan pemikiran spekulasi tentang kualitas ideal yang mereka inginkan dalam diri mereka dan diri orang lain.   

 

2. Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky Tappan (1998) dalam Santrock (2008:60) menyatakan bahwa Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygotsky 

 a. Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental.

 b. Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental,  

 c. Kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Menurut Vygotsky, menggunakan pendekatan developmental berarti memahami fungsi kognitif anak dengan memeriksa asal usulnya dan transformasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya. Kemudian Robbins dalam Santrock (2008:60) menyatakan bahwa untuk memahami fungsi kognitif kita harus memeriksa alat yang memperantarai dan membentuknya, membuat Vygotsky berpendapat bahwa bahasa adalah alat yang paling penting. Kemudian Vygotsky menyatakan bahwa kemampuan kognitif berasal dari hubungan sosial dan kultur. Perkembangan anak tidak bisa dilepaskan dari kegiatan sosial dan kultural.  

Dari ketiga klaim dasar ini Vygotsky mengajukan gagasan yang unik dan kuat tentang hubungan antara pembelajaran dan perkembangan. Ide khusus merefleksikan pandangannya bahwa fungsi kognitif berasal dari situasi sosial. Salah satu ide unik Vygotsky adalah konsepnya tentang zone of proximal development.  Zone of Proximal Development (ZPD) adalah istilah Vygotsky untuk serangkaian tugas yang terlalu sulit  dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau anak yang lebih mampu. Jadi batas bawah dari ZPD adalah tingkat problem yang dapat dipecahkan oleh anak seorang diri. Batas atasnya adalah tingkat tanggung jawab atau tugas tambahan yang dapat diterima anak dengan bantuan dari instruktur  yang mampu. Penekanan Vygotsky pada ZPD menegaskan keyakinannya akan arti penting dari pengaruh sosial, terutama pengaruh pengajaran, terhadap perkembangan kognitif anak. Vygotsky memberi contoh cara menilai ZPD anak. Misalkan, berdasarkan tes kecerdasan, usia mental dari dua orang anak adalah 8 tahun.  Menurut Vygotsky, kita tidak bisa berhenti sampai di sini saja. Kita harus menentukan bagaimana masing-masing anak akan berusaha menyelesaikan problem yang dimaksudkan untuk anak yang lebih tua. Kita membantu masingmasing anak dengan menunjukkan, mengajukan pertanyaan, dan memperkenalkan elemen awal dari solusi. Dengan bantuan atau kerja sama dengan orang dewasa ini, salah satu anak berhasil memecahkan persoalan yang sesungguhnya untuk level anak usia 12 tahun, sedangkan anak yang satunya  memecahkan problem untuk level anak 9 tahun. Perbedaan antara usia mental dan tingkat kinerja yang mereka capai dengan bekerja sama dengan orang dewasa akan mendefinisikan ZPD. Jadi ZPD melibatkan kemampuan kognitif anak yang berada dalam proses pendewasaan 

dan tingkat kinerja mereka dengan bantuan orang yang lebih ahli. 3. Teori Kognitif menurut Lewin (teori medan) Teori ini dikemukakan oleh Kurt Lewin (1892-1947). Menurutnya, masingmasing individu berada dalam medan kekuatan yang bersifat psikologis. Medan dimana individu bereaksi disebut life space. Life space mencakup perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya; orang-orang yang dijumpainya, objek material yang ia hadapi, serta fungsi kejiwaan yang ia miliki. Jadi menurut Lewin,  belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan: a. Struktur medan kognisi b. Kebutuhan motivasi internal individu (Khodijah, 2014) 4. Teori Kognitif menurut Jerome Bruner Menurut Jerome Brunner, pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar mahasiswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. Dari sudut pandang psikologi kognitif, bahwa cara yang dipandang efektif untuk meningkatkan kualitas output pendidikan adalah pengembangan program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual pembelajar pada setiap jenjang belajar.  Sebagaimana direkomendasikan Merril, bahwa jenjang belajar bergerak dari tahapan mengingat, dilanjutkan ke menerapkan, sampai pada tahap penemuan konsep, prosedur atau prinsip baru di bidang disiplin keilmuan atau keahlian yang sedang dipelajari. Dalam teori belajar, Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap, yaitu : 

a. Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru,  b. Tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta mentransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain, dan c. Tahap evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak. (Syah, 2009) Jerome Bruner juga memandang belajar sebagai “instrumental conceptualisme” yang mengandung makna adanya alam semesta sebagai  realita, hanya dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, pikiran manusia dapat membangun gambaran mental yang sesuai dengan pikiran umum pada konsep yang bersifat khusus. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulus yang dihadapi. 

  

C. Implikasi Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Kognitif dalam Pembelajaran

 

   Willingham (dalam Danim dan Khairil : 2010 : 39) menyatakan bahwa Hubungan psikologi kognitif untuk kepentingan pembelajaran di kelas adalah seperti hubungan kognitif untuk kepentingan fisika untuk keperluan pembangunan di bidang teknik, semisal jembatan. Memang, pengetahuan tentang pikiran psikologi kognitif yang diperoleh dari percobaan tidak akan memberitahu guru cara mengajar anak-anak secara baik. Namun demikian, psikologi kognitif dapat menjelaskan prinsip-prinsip pikiran siswa beroperasi sebagai pedoman latihan.  Danim dan Khairil (2010 : 39) menyatakan bahwa Guru-guru pada umumnya sudah tahu fakta kunci aktivitas di kelas: perhatian sangat penting bagi kepentingan siswa belajar. Karena itu guru harus mengetahui bahwa anak-anak cenderung sama cara belajarnya, pengetahuan faktual berkaitan 

dengan keterampilan berpikir, dan siswa tidak harus selalu didorong menggunakan metode yang diterapkan para ahli. Pada sisi lain, tentu guru harus memahami dimensi emosional, elemen motivasi, dan elemen sosial anak didiknya.  Dalam membahas tentang implikasi perkembangan kognitif dalam pembelajaran maka akan dijelaskan tentang implikasi teori Piaget dalam pembelajaran dan akan dilanjutkan dengan implikasi teori Vygotsky dalam pembelajaran.  Santrock (2008:61) menyatakan bahwa ada beberapa strategi mengajar untuk menerapkan teori Piaget dalam pembelajaran: 

a. Gunakan pendekatan konstruktivis. Senada dengan pandangan aliran konstruktivis, Piaget menekankan bahwa anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika mereka aktif dan mencari solusi sendiri. 

b. Fasilitasi mereka untuk belajar. Guru yang efektif harus merancang situasi yang membuat murid belajar dengan bertindak.  

c. Pertimbangkan pengetahuan dan tingkat pemikiran anak. Murid tidak datang ke sekolah dengan kepala kosong. Mereka punya banyak gagasan tentang dunia fisik dan alam. 

d. Gunakan penilaian terus-menerus. Makna yang disusun oleh individu tidak dapat diukur dengan tes standar. Penilaian matematika dan bahasa (yang menilai kemajuan dan hasil akhir), pertemuan individual di mana murid mendiskusikan strategi pemikiran mereka dan penjelasan lisan dan tertulis oleh murid tentang penalaran mereka dapat dipakai sebagai alat untuk mengevaluasi kemajuan mereka.

 e. Tingkatkan kemampuan intelektual murid. Menurut Piaget tingkat perkembangan kemampuan intelektual murid berkembang secara alamiah. Anak tidak boleh didesak dan ditekan untuk berprestasi terlalu banyak di awal perkembangan mereka sebelum mereka siap. f. Jadikan ruang kelas menjadi eksplorasi dan penemuan. Guru menekankan agar 

murid melakukan eksplorasi dan menemukan kesimpulan sendiri. Guru lebih banyak mengamati minat murid dan partisipasi alamiah dalam aktivitas mereka untuk menentukan pelajaran apa yang diberikan. 

 Berdasarkan penjelasan dari Implikasi teori Piaget di dalam pembelajaran maka seorang guru harus dapat memakai teori tersebut untuk dilaksanakan dalam proses pembelajaran peserta didik. Misalnya ada pendekatan kontruktivis maka guru dapat memberikan tugas kepada murid untuk mempelajari dan membuat ringkasan pelajaran yang datang. Murid bisa mencari teori-teori untuk pelajaran yang akan datang di pustaka, internet, dan lain-lain. Dengan adanya kegiatan dari murid untuk belajar maka hasilnya akan lebih baik.  

 Teori-teori yang dijelaskan di atas tentang implikasi teori Piaget dalam pembelajaran akan membuat siswa lebih banyak berperan dalam belajar. Dengan banyak peran siswa dalam belajar maka hasil pembelajaran akan lebih baik dan siswa akan lebih memahami materi yang dipelajari. Jika siswa sudah memahami materi yang telah dipelajarinya maka dia akan lulus dalam ulangan dan ujian. Santrock (2008:64) menyatakan bahwa cara memakai teori Vygotsky adalah sebagai berikut: 

a. Gunakan zone of proximal development. Mengajar harus dimulai pada batas atas zona, di mana murid mampu untuk mencapai tujuan dengan kerja sama erat dengan pengajar. Dengan petunjuk dan latihan yang terus menerus, murid akan mengorganisasikan dan menguasai urutan tindakan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu keahlian yang diharapkan.

 b. Gunakan teknik scaffolding. Cari kesempatan untuk menggunakan teknik ini ketika murid membutuhkan bantuan untuk aktivitas yang merupakan inisiatifnya sendiri. 

c. Gunakan kawan sesama murid yang lebih ahli sebagai guru. Vygotsky mengatakan bahwa Murid juga bisa mendapat manfaat dari bantuan dan petunjuk dari temannya yang lebih ahli. 

 

 

d. Dorong pembelajaran kolaboratif dan sadari bahwa pembelajaran melibatkan suatu komunitas orang yang belajar. Baik itu anak maupun orang dewasa melakukan aktivitas belajar secara kolaboratif.

 e. Pertimbangkan konteks kultural dalam pembelajaran. Fungsi penting dari pendidikan adalah membimbing murid dalam mempelajari keahlian yang penting bagi kultur tempat mereka berada. 

f. Pantau dan dorong anak-anak dalam menggunakan private speech. Perhatikan perubahan perkembangan dari berbicara dengan diri sendiri pada masa awal sekolah dasar. Pada masa sekolah dasar, dorong murid untuk menginternalisasikan dan mengatur sendiri, pembicaraan mereka dengan dirinya sendiri. 

g. Nilai ZPDnya, bukan IQ. Vygotsky mengatakan bahwa penilaian harus difokuskan untuk mengetahui ZPD si murid. Pembimbing memberi murid tugas dengan tingkat kesulitan yang bervariasi untuk menentukan level terbaik untuk memulai pelajaran. ZPD adalah pengukur potensi belajar. ZPD menekankan bahwa pembelajaran bersifat interpersonal.        Jika teori yang disampaikan oleh Vygotsky di atas diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas maka hasil pembelajaran akan bagus. Hal ini disebabkan murid yang tingkat pengetahuannya masih rendah. Lalu dibantu oleh murid yang pintar maka pengetahuan murid yang masih rendah ini pelan-pelan akan meningkat. Dengan adanya bantuan dari teman sebayanya maka murid akan lebih nyaman dan akan mudah untuk bertanya jika ada sesuatu yang tidak dimegertinya dalam belajar.  Kemudian dengan memakai teori Vygotsky maka pembelajaran akan lebih bermanfaat karena pembelajaran yang dilakukan berdasarkan kebutuhan daerahnya. Jika murid sudah tamat belajar maka sewaktu bekerja, keahlian yang dimiliki oleh siswa akan dapat digunakan, sehingga antara teori dan praktik dapat sejalan.   Ormrod (2009 : 271) menyatakan bahwa Implikasi teori psikologi kognitif dalam proses pembelajaran adalah 

1. Dorong siswa untuk berpikir tentang materi pelajaran dengan cara yang akan membantu mereka mengingatnya. Contoh ketika mengenalkan konsep mamalia, minta siswa untuk memberikan banyak contoh. 

2. Bantu siswa mengindentifikasi hal-hal yang paling penting bagi mereka untuk dipelajari. Contoh berikan pertanyaan kepada siswa yang harus mereka coba jawab sementara mereka membaca buku teks mereka. Masukkan pertanyaan yang meminta mereka menerapkan apa yang mereka baca dalam  kehidupan mereka sendiri

. 3. Berikan pengalaman yang akan membantu siswa memahami topik-topik yang mereka pelajari. Ketika mempelajari The Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne, bagilah siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas kemungkinan alasan Pendeta Arthur Dimmesdale menolak mengakui bahwa ia adalah ayah bayi Hester Prynne.

 4. Kaitkan ide-ide baru dengan hal-hal yang telah diketahui dan diyakini siswa tentang dunia. Contoh Ketika mengenalkan kosa kata debut kepada siswa-siswa MeksikoAmerika, kaitkan dengan quinceanera, sebuah pesta “memperkenalkan kepada masyarakat (coming-out party)” yang dilakukan banyak keluarga MeksikoAmerika untuk anak-anak perempuan mereka yang menginjak usia 15 tahun. 

5. Pertimbangkan kelebihan dan keterbatasan dalam kemampuan pemrosesan kognitif siswa pada tingkat usia berbeda. Contoh Ketika mengajarkan anak-anak TK keterampilan hitung dasar, bantulah rentang perhatian mereka yang pendek dengan memberikan penjelasan verbal yang singkat dan libatkan anak-anak dalam beragam aktivitas berhitung aktif dan langsung.

6. Rencanakan kegiatan-kegiatan kelas yang membuat siswa secara aktif berpikir dan menggunakan mata pelajaran di kelas. Contoh untuk membantu siswa memahami garis lintang dan garis bujur, minta mereka menelusuri jalur sebuah angin topan dengan menggunakan koordinat garis lintang dan garis bujur yang diperoleh dari internet.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A. KESIMPULAN

 

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan:

 1. Menurut teori belajar kognitif Jean Peaget mengemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda satu sama lainnya. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap perkembangan moral berikutnya. 

2. Vygotsky menyatakan bahwa kemampuan kognitif berasal dari hubungan sosial dan kultur. Perkembangan anak tidak bisa dilepaskan dari kegiatan sosial dan kultural.

 3. Teori Kognitif menurut Lewin, masingmasing individu berada dalam medan kekuatan yang bersifat psikologis. Medan dimana individu bereaksi disebut life space. Belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. 

4. Menurut Jerome Brunner, pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar individu dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. Dari sudut pandang psikologi kognitif, bahwa cara yang dipandang efektif untuk meningkatkan kualitas output pendidikan adalah pengembangan program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual pembelajar pada setiap jenjang belajar.

 5. Implikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran adalah dengan cara: 

a. Dorong siswa untuk berpikir tentang materi pelajaran dengan cara yang akan membantu mereka mengingatnya. 

 b. Bantu siswa mengindentifikasi halhal yang paling penting bagi mereka untuk dipelajari. 

c. Berikan pengalaman yang akan membantu siswa memahami topiktopik yang mereka pelajari.

 d. Kaitkan ide-ide baru dengan hal-hal yang telah diketahui dan diyakini siswa tentang dunia. 

e. Pertimbangkan kelebihan dan keterbatasan dalam kemampuan pemrosesan kognitif siswa pada tingkat usia berbeda. 

f. Rencanakan kegiatan-kegiatan kelas yang membuat siswa secara aktif berpikir dan menggunakan mata pelajaran di kelas.   

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Rineka Cipta.  

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.  

Dalyono, M. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.   

Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instruction: Teori dan Aplikasi: Edisi Keenam. Alih Bahasa oleh Tri Bowo B.S. Jakarta: Kencana.  

Khodijah, Nyayu, 2014, Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada  

Ormrod, Jeanne Ellis. 2009. Psikologi Pendidikan: Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Edisi Keenam. Alih Bahasa: Wahyu Indianti, dkk. Jakarta: Penerbit Erlangga.  

Saam, Zulfan. 2010. Psikologi Pendidikan. Pekanbaru: UR Press.   

Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan: Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.  

Solso, Robert L.,dkk.  2008. Psikologi Kognitif. Edisi Kedelapan. Alih Bahasa: Mikael 

Rahardanto dan Kristianto Batuadji. Jakarta: Penerbit Erlangga.   

Syah, Muhibbin, 2009, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosda Karya  

Uno, Hamzah B. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.  

Winkel, W.S. 2007. Psikologi Pengajaran. Cetakan Kesepuluh. Yogyakarta: Media Abadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah perkembangan AUD Kelompok 2

Dwi sri utami Prinsip-prinsip PAUD